Sepatu Buat Reni

“Umi, Hana mau sepatu baru, Mi” rengek Hana manja setelah pulang sekolah.

“Eh Hana, kenapa pulang-pulang tidak memberi salam, malah merengek begitu ?” tanya umi keeranan.

“Hana cape diejek teman-teman, Mi!” sahut Hana.

“Hana sayang, bukannya Umi tidak ingin membelikan Hana sepatu baru, tetapi Hana kan tahu, Ayah sudah pergi duluan. Uang Umi hanya cukup buat kita bertahan hidup. Beli makan, obat, kalau Hana sakit. Lagi pula, kan Hana sudah punya dua sepatu. Nggak kekecilan, masih bagus lagi” kata umi sambil mengelus kepala putrinya.

“Tapi Mi, kata teman-teman Hana, sepatu Hana sudah nggak jaman lagi. Sekarang sepatu model seperti ini yang jaman. Kata teman-teman, kalau dalam seminggu ini Hana nggak bisa dapat sepatu seperti ini, Hana bakal dikatain anak jadul Mi” kata Hana sambil menunjukan gambar sepatu yang diinginkannya.

“Sayang, nggak usah dihiraukan ejekan itu, Hana. Sabar aja!” bujuk umi.

“Mi, tolong Mi!”, “Umi gnggak mau kan kalau anak umi satu-satunya ini diejek anak jadul?” Hana nerajuk.

“Hana tolong juga mengerti. Umi belum punya uang, sayang!” jawab umi masih dengan begitu sabarnya.

“Umi, tapi Umi nggak mau kalau anak Umi satu-satunya ini diejek anak jadul kan?” tanya Hana lagi.

“Sayang, Umi nggak mau kamu diejek seperti itu, tapi kan Umi nggak punya uang sayang, Biasanya Hana paling bisa mengerti Umi. Tolong dong sayang!” jawab umi.

“Umi!!! Hana hanya ingin sepatu baru. S-E-P-A-T-U B-A-R-U Mi yang baru ini, Mi” kata Hana sambil menangis menjauhi uminya.

“Hana sayng, jangan menangis! Umi benar-benar nggak punya uang” kata umi sambil mendekati Hana dan berusaha mengusap kepala Hana.

Tetapi Hana beusaha menjauh dari uminya. “Umi bohong! Aku nggak mau makan sebelum ada sepatu baru” ancam Hana.

“Cantik, nanti kamu sakit. Kalau sakit Hana juga yang rugi, umi juga tambah ribet juga. Jangan gitu dong!” ujar umi berusaha membujuk Hana.

Umi memang ibu yang sangat sabar menghadapi segala cobaan. Bukannya Umi tidak mau membelikan Hana sepatu. Memang kehidupan mereka serba sulit setelah ayah Hana meninggal 2 tahun yang lalu. Ayah Hana hanya pekerja bengkel sepeda biasa yang tidak meninggalkan pensiun setelah beliau meninggal. Sedangkan Umi Hana dai dulu tidak bekerja. Setelah suaminya meninggal, barulah umi bekerja sebagai buruh lepas pemetik bunga melati diladang pak Idam dengan penghasilan tidak seberapa. Ditambah sekarang beliau sakit-sakitan karena memang telah berusia senja. Memang putri mereka hanya satu yaitu Hana. Itupun didapatkan setelah usia pernikahan umi dan ayahnya 12 tahun. Jadi walaupun sekarang Hana asih di kelas 3 SD, tetapi uminya telah berumur.

Umi memang tidak serta merta menyalahkan Hana. Hana masih terlalu kecil untuk memahami keadaan uminya. Hana selama ini sudah cukup bersabar. Memang dua sepatu milik Hana itu juga bukan umi yang membelikan, melainkan diperoleh dari bekas anak pak Idam tempat uminya bekerja. Walau bekas, masih lumayan bagus buat Hana. Tetapi memang tidak salah juga kalau Hana minta dibelikan yang baru, karena memang model sepatunya sudah agak lama. Teman Hana pun juga tidak salah, karena anak sebaya Hana memang baru senang mengikuti model.

“Maafkan Umi Hana. Umi janji kalau punya uang, Umi mau belikan sepatu baru” umi mencoba merayu Hana.

Hana hanya terdiam. Dia tidak menjawab disela isak tangisnya. Dengan perlahan Hana berkata “Hana mau sepatu, Umi”.

“Hana, baiklah! Umi belikan, tapi Hana nggak usah nangis lagi. Sekarang kita sholat dzuhur dulu. Dalam seminggu ini, InsyaAlloh Umi janji belikan” begitulah janji umi.

“Janji ya!” kata Hana.

“Janji, janji, janji!” kata Umi meniruka gaya Upin Ipin serial kesukaan Hana sambil tersenyum karena anak semata wayangnya sudah mulai mereda tangisnya.

“Umi kaya Upin Ipin aja” kata Hana sambil berusaha tersenyum.

Memang, umi sesalu berusaha memberikan yang terbaik buat putrinya, walau itu bukan berarti umi selalu menuruti keinginan Hana. Tetapi dengan  penuh kasih sayang, umi sesalu berusaha memberiakan ketenangan kepada Hana.

“Hehehe yuk sholat dulu, sayang!” ajak umi sembari merangkul putrinya.

“Hana wudhu dulu ya Mi” kata Hana

“Iya sayang” kata Umi sambil mengusap kepala Hana.

Kemudian mereka sholat dzuhur berjama’ah.

“Allohu Akbar” kata Umi takbir mengawali sholat.

“Assalamualaikum warahmatulaah” mereka berdua mengakhiri sholat.

Hana mencium tangan Umi. Setelah itu Umi dan Hana berdoa masing-masing. Kemudian Hana melipat mukena dan sejadah lalu menaruhnya diatas meja kayu bewarna coklat sambil membayangkan besok-besok dia bisa mendapatkan sepatu baru dan itu berarti temannya tidak ada alasan lagi untuk mengejeknya.

“Sekarang ayo makan dulu sayang!” ajak Umi.

“Apa menunya Mi?” tanya Hana.

“Nasi, sayur bayem, tahu, tempe” jawab Umi.

“Bukannya Hana gak mau Umi, tapi Hana pingin makan pake fried chicken. Nanti malam baru pakai tahu deh Mi. Janji. Hana tetap makan syur bayem kok”, “Boleh nggak , Mi?” Hana merayu sekali lagi.

Umi mencoba mencari uang sisa belanjaannya di jaket Umi. “Ya ini beli satu. Delapan ribu kan satunya?” tanya Umi sambil memberi 4 helai uang berwarna abu-abu dua ribuan.

“Ya Mi, makasih. Hana mau beli dulu. Assalamualaikum” kata Hana sambil berjalan keluar rumah menuju warung fried chicken bang Momo.

“Waalaikumsalam” jawab Umi tersenyum melihat tingkah putrinya yang kegirangan karena mau makan pakai fried chicken kesukaannya.

Warung bang Momo emang agak jauh dari rumah Hana. Warung itu ada diujung jalanan pinggir jalan raya. Hana mencoba melewati jalan pintas yang berarti harus melewati gang-gang sempit yang tak pernah dia lewati.

Dalam perjalanan ke arung bang Momo, Hana melihat sebuah gubuk kecil dan ada anak perempuan lebih kecil sedikit dari pada Hana dengan rambut ikal memakai baju abu-abu kusam sedang sedang membuka-buka buku di luar gubuknya itu.

Hana penasaran siapa anak itu dan sedang apa. Lalu Hana bertanya, “Maaf, siapa nama mu dan sedang apa kamu?”

Anak perempuan itu kaget karena tidak menyadari kedatangan Hana. Lalu dia balik bertanya, “Siapa kamu ?”

“Aku Hana. Aku tidak pernah melihat mu, siapa kamu ?” Hana berusaha bertanya kembali kepada gadis rambut ikal itu.

“Aku Reni” jawab anak itu, “Aku tinggal disini bersama ibuku. Ayahku sudah tiada. Aku sedang belajar membaca”.

“Belajar membaca ? Kamu sekolah dimana ?” tanya Hana kembali.

“Aku hanya anak tukang parkir. Aku dan ibuku hanya mampu hidup sederana. Beruntung sekolah di SD itu gratis. Jadi aku bisa sekolah. Walau sepulang sekolah aku tidak bisa seperti teman-teman yang lainnya, karena aku harus membantu ibuku dengan berjualan asongan. Tetapi aku senang, disela-sela waktu ku, aku masih bisa belajar” terang gadis bernama Reni yang diketahui umurnya ternyata 7 tahun dan duduk di kelas 1 SD.

“Kamu di rumah sendirian?” tanya Hana.

“Iya, ibuku baru pulang nanti malam. Jadi aku harus belajar sendiri dan mandiri” kata Reni yang ternyata pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya.

“Aku baru menjemur sepatu sama bajuku itu karena basah tersiram airdan besok harus dipakai. Itu sepatu ku satu-satunya” kata Reni sambil menujukan sepatu usang yang di jemur di atap rumah.

Hana memperhatikan sepatu Reni. Sangat usang, bahkan kalau di bandingkan, sepatu reni jauh lebih jadul dari pada sepatu Hana.

Dalam hati Hana sangat malu karena telah merengek kepada uminya minta dibelikan sepatu baru. Padahal Hana tahu, penghasilan uminya sangatlah pas-pasan, dan sepatu Hana pun masih lumayan bagus.

Hana sangat mengagumi kemandirian dan semangat Reni, gadis yang lebih kecil darinya, namun lebih bisa mensyukuri kehidupannya.

Tanpa di sadari mata Hana berkaca-kaca dia teringat kesalahannya kepada umi. Hana ingin pulang minta maaf.

“Ren, Hana pulang dulu. Nanti kapan-kapan Hana main kesini lagi ya!” pamit Hana.

“Iya Han, hati-hati ya! Kapan-kapan kesini lagi ya! Reni senang punya teman” jawab Reni.
unduhan
Hana berlari pulang ke rumah dan membatalkan rencana membeli fried chicken. Dia hanya ingin pulang memeluk umi dan meminta maaaf karena telah membuat umi sedih. “Maafin Hana ya Mi!” kata Hana sesampainya di rumah sambil memeluk uminya. “Ada apa Hana ? Mana fried chicken nya?” tanya umi kebingungan. “Hana mau lauk tahu, tempe, saja , Mi. Ini uangnya” jawab Hana sambil menyerahkan uang delapan ribu. “Ada apa sih sayang ?” tanya umi. Hana pun menjelaskan kejadian tadi saat bertemu Reni. Umi bersyukur dan senang Hana sudah mulai bisa berfikir dewasa.

“Umi sepatu Hana yang satu, Hana berikan ke Reni, boleh ?” tanya Hana kepada uminya.

“Iya Hana” jawab umi senang karena Hana sudah mulai bisa berempati terhadap lainnya.

“Hana juga tidak minta dibelikan sepatu baru ko Mi. Besok saja kalau Umi sudah punya uang lebih ya, Mi!” kata Hana sambil memandang wajah teduh umi.

Umi mengangguk pelan sambil tersenyum.

Hana membungkus sepatu yang akan ia berikan kepada Reni. Setelah selesai, hana pamit pada umi pergi ke rumah Reni untuk memberikan sepatu supaya bisa di pakai esok hari. Pelajaran berharga yang Hana dapatkan hari ini adalah dengan mensyukuri hidup maka hidup akan lebih bermakna. Dan memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan jauh lebih menyenangkan.

Hana berjalan kaki ke rumah Reni dengan perasaan bahagia karena bisa membantu teman barunya itu.

By. Shofiqoh Yumna Paramesti

Kelas IV A

1 Comment

  1. Arief subhan says:

    Teruskan karyamu ananda yumna
    Semoga menjadi penulis terbaik di negara kita….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *